UG News!

Jumat, 29 Juni 2012

SKS(Sistem Kebut Semalem) :lol:

Haha kata2 ini mungkin sering kita denger kalau kita kelupaan sama tugas2 kita, malah mungkin yang sering kejadian adalah kita sengaja numpuk kerjaan biar "sekalian" selesainya, atau waktu-waktu dekat sama UAS maupun UTS (pengalaman saya sendiri buat yang satu ini).dan ini entah bisa dibilang budaya atau kebiasaan,  cukup banyak orang yang melakukan hal ini, karena bukan dari kalangan orang "males" saja, terkadang orang yang rajin pun bisa melakukan hal ini kalau kalau dia "lupa" sama tugas yang diberikan sama dosen/.

Gak bisa dipungkiri, Hasil maksimal seringkali diperoleh dari optimalisasi tindakan "kepepet".Sering saya melakukan kegiatan belajar dengan Sistem Kebut Semalem (SKS). Pada saat hari - hari biasa, saya mencoba belajar untuk mengulang pelajaran yang dikuliahkan pagi hingga sore hari, namun tak secuilpun ilmu yang masuk ke otak saya.

Tapi kadang cara kayak gini suka "gagal" karena pernah saya pas lagi bete bener saya belajarnya sambil nyetel mp3 , dan alhasil pas test yang ada malah keingetan lirik lagu yang saya dengerin malam harinya haha. 


Tetapi bandingkan ketika saya mempunyai target untuk mendapatkan nilai ujian yang bagus, sedang waktu yang tersedia hanya semalem saja. Saya mati - matian dan konsentrasi penuh untuk tetap belajar agar semua harapan terpenuhi.


Intinya sih kita bisa ambil pengalaman dari yang seperti ini.

Salah saya: kenapa harus selalu menunda pekerjaan yang semestinya dapat saya lakukan
dengan cepat sehingga tidak membebani pikiran terus - menerus.

Pertimbangan lain: sulit rasanya untuk memulai pekerjaan yang masih punya peluang waktu
untuk dimundur.

Intinya : Jangan menunda pekerjaan.

Presiden saja sudah tidak didengar suaranya

Tadi sore saya melihat berita di tv tentang pidato bapak SBY yang memberikan kuliah umum, kepada Perwira TNI di Sekolah Calon Perwira TNI Angkatan Darat, Bandung, Jumat 29 Juni 2012. Kuliah umum ini bertema "Geopolitik Abad 21 Dampak dan Implikasinya Terhadap Indonesia".

Dalam pidato tersebut, SBY menegur 7 Pasis yang berada di barisan depan, dari arah kiri ke kanan podium. Saat itu, SBY tengah menyampaikan topik ke empat pidatonya.

"Kenapa kalian Pasis nomor 1 sampai 7 berbicara terus," tegur SBY. Seluruh peserta terdiam. Suasana ruang utama Soedirman Gedung Secapa TNI AD seketika hening.

SBY menyayangkan ketujuh Pasis itu karena tidak menyimak pidatonya. Sebab, menurut SBY, pidato yang disampaikan ini sangat penting bagi para perwira TNI dan Polri ke depan.

"Saya minta kalian mendengarkan pidato ini. Saya tahu kalian sudah pintar, tetapi mendengarkan alangkah lebih baik," ungkap SBY.

 Wah kalau presiden yang harusnya paling tinggi jabatannya di negara ini sudah tidak di dengar bagaimana yah dengan rakyat2 kecil yang tidak memiliki jabatan tinggi. Entah mau tertawa atau miris pas saya melihat berita ini. Soalnya jadi ngingetin saya karena kadang tidak mendengarkan dosen kalau2 saya lagi tidak mood dll. :lol
yasudah lah dijadiin pelajaran aja yah pak SBY mungkin pidatonya bikin bete sampai-sampai "dicuekin" begitu sama pendengarnya.dan bagi pendengarnya kata2 pak SBY juga benar kalo mendengarkan itu bisa menambah pengetahuan bagi kita nantinya juga.

Selasa, 19 Juni 2012

Tor-Tor Tarian khas batak

Akhir akhir ini Malaysia berniat memasukkan tarian Tor-tor dan Gordang Sambilan dari Mandailing sebagai warisan budaya negeri Jiran itu berdasarkan Bab 67 Undang-undang Peninggalan Nasional 2005. Apakah Tarian Tor-Tor itu?

Tarian Tor-tor merupakan tarian khas Batak dengan gerakan yang seirama dengan musik gondang yang terdiri dari gordang (kendang), alat tiup sarune, suling, dan saleot. Semua suku Batak di Sumatera Utara menyebut tarian mereka dengan Tor-tor, mulai dari Batak Toba, Mandailing, Pak-pak, Simalungun, sampai Karo.

Selain alat musik, satu hal lagi yang indentik dengan tarian ini adalah kain ulos yang dikenakan penari, baik perempuan maupun laki-laki. Gerakan dalam tarian ini sebenarnya tidak terlalu kompleks dan cenderung monoton pada gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan. Kalaupun ada gerakan tubuh secara keseluruhan, tidak terlalu banyak.

Suku Batak zaman dulu menggunakan tarian ini untuk acara ritual dan berbau mistis yang berhubungan dengan roh leluhur. Melalui tarian ini, penari zaman dulu memanggil roh nenek moyang untuk masuk ke dalam obyek berupa patung-patung batu. Konon, patung tersebut bergerak seperti menari, akan tetapi gerakannya kaku.

Tor-tor memiliki jenis yang berbeda-beda, misalnya Tor-tor Pangurason atau tari pembersihan. Tarian ini biasanya digelar untuk pesta besar. Sebelum pesta, 'pembersihan' dilakukan agar tempat atau lokasi pesta agar jauh dari mara bahaya.

Selain itu, ada Tor-tor Sipitu Cawan (Tari tujuh cawan). Tari ini biasa digelar pada saat pengukuhan seorang raja. Kemudian ada Tor-tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Biasanya digelar apabila suatu desa dilanda musibah, maka  ditarikan tari Tor-tor ini.

Saat ini, suku Batak menggunakan tarian ini dalam berbagai acara adat, mulai dari pernikahan, orang mati, menyambut tamu agung, dan juga festival budaya.

Dalam perkembangannya makna tarian Tor-tor pun disesuaikan dengan tema acara adat yang sedang dilakukan. Dan untuk lebih memeriahkan tari Tor-tor, sebagian penonton memberikan saweran kepada penari. Sambil menari, penonton bisa menyelipkan uang kertas di sela jari atau tangan penari.

Oleh karena itu ada baiknya jika budaya budaya juga didaftarkan agar tidak di klaim oleh negara lainnya, kita sebagai masyarakat juga bisa membantu dengan meng-upload video soal tari-tari Indonesia di www.budayaindonesia.org agar semakin banyak bukti kalau budaya kita adalah milik negara Indonesia.